Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Pohon dan Benalu

Mungkin, sudah tidak susah lagi melupakan saya. Baginya. Sudah hal yang wajar dan sepantasnya, untuk di lakukan.  Memang, melupakan saya pasti akan jadi bagian terpenting di hidupnya.  Kalau menurut ilmu pengetahuan, “saya hanyalah sebuah benalu”  Mana ada sebuah pohon yang amat rindang, ingin hidup berdampingan dengan benalu.  Benalu.. Hanya bisa mengambil apa yang dimiliki pohon. Saya.. Hanya bisa mengambil dia yang bukan milik saya..  Tapi, nampaknya.. si pohon telah menemukan pemilik sebenarnya.. Si pemiliki mampu membuang benalu dari pohon itu, dan menjaga pohon itu menjadi sebuah pohon yang lebih rindang, dan indah dari sebelumnya..  Seperti itu lah.. Itu sebabnya, mengapa dia akan dengan mudah melupakan saya.  Karena benalu, tidak pantas untuk dipelihara. Karena saya, tidak layak untuk diingat. 

Tanpa Judul

Tidak tahu, sampai kapan kegelisahan ini berakhir. Pikiran ini tidak pernah berhenti berfikir, seakan - akan perlahan merenggut nyawaku. Diam, termenung. Menghela nafas, sampai terasa nafas ini habis. Tidak dapat jawaban, atas semuanya. Sudah kucari. Semua ini terasa menyiksa. Semua berputar, menjauh. Mengkhianati. Menyakitkan. Mematikan, perlahan.

Kemarin yang Menjadi Sekarang

Saat itu... Kehadiranmu tidak pernah terduga, tidak pernah disangka, namun terasa benar dan nyata. Saat itu pula, ada fase dimana kita memiliki kesibukan masing - masing, yang pada akhirnya akan sempat saling melupakan. Namun.. bukan melupakan untuk meninggalkan, tetapi melupakan untuk sementara menyelesaikan kesibukan kita. Saat itu... Sekarang.. Kehilanganmu tidak pernah terduga, tidak pernah disangka, namun terasa benar dan nyata. Sekarang, fase dimana tidak pernah melupakan, namun ditinggalkan. Sekarang, semua memang benar dan nyata. Bukan lagi sekedar terasa. Sekarang..

Tidak Ada

Ada sekat yang tak bisa aku lewati. Ada pintu yang tak bisa ku buka. Dan ada jendela yang tak bisa ku intip. Ada raga, namun tak bisa kusentuh. Ada rasa, namun tak bisa diutarakan. Ada kata, namun tak bisa terucap. Ada tawa, namun tak bahagia. Ada senyum, namun duka yang muncul. Ada harapan, namun keputus asaan yang selalu datang. Ada pergi, namun tidak ada kembali.. 

Tidak pasti, Hanya sebuah Kebetulan

Rindu itu jahat ya.. Rindu itu mengganggu semua keadaanku. Aku benci rindu. Apalagi merindukan seseorang yang tidak bisa kumiliki. Hm.. Bukan tidak bisa. Bisa tapi berbeda. Aku memiliki, tapi tak terasa menjadi milik. Aku mendapatkan, tetapi tidak seutuhnya. Aku akan slalu ada, tetapi dalam situasi berbeda. Kembali, tapi dalam keadaan yang berbeda. Kembali, tetapi  tidak akan pasti selamanya.

Lorong Cahaya

Tidak terasa.. Waktu berjalan cukup cepat. Semua yang kelihatan bahagia dan baik - baik saja sudah terlewati. Sekarang waktunya aku merasakan susah dan sedihnya dunia ini. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Harta, Cinta, Tahta, semua akan hilang dalam sekejap saja. Tak akan ada yang bisa kubawa. Hanya diriku sendiri yang suatu saat nanti akan kubawa. Tanpa harta, tanpa tahta, dan tanpa cinta. Aku akan pergi, berjalan sendiri menuju lorong cahaya itu. Aku tidak akan melihat ke belakang lagi. Aku akan terus berjalan mengikuti cahaya itu.  Aku tidak ingin memiliki sesuatu yang tidak abadi, Walau aku tahu semua yang ada di dunia memang tidak abadi.

Bunga Tidur

Gambar
Tidak ada yang lebih indah dari mimpi semalam. Mendengar suaramu, mendengar tawamu. Ya itu yang kumau. Tak pernah lagi aku merasa sebahagia itu setelahmu pergi. Suara lembutmu, sapaan hangatmu.. Terdengar hangat di kupingku. Tidak ada yang berubah dari dirimu, tetap terasa sama seperti milikku. Kudengarkan lembut suaramu, bagaikan alunan musik di malam hari. Kuperhatikan satu persatu tiap kata yang kau ucap, bagai lantunan sebuah puisi indah. Aku tidak bisa terbangun dari mimpi indah itu.. Tapi kurasa, bukan tidak bisa. Namun aku tak mau. Tak mau harus mengetahui bahwa semua itu hanya sebuah bunga tidurku. Aku hanya ingin seperti ini. Mendengarkanmu, memahami setiap kata dan ucapanmu. Memperhatikan tiap tawa candamu. Menjadi salah satu orang yang akan berjanji slalu ada di sampingmu. Huh.. aku, tidak menyangka. Seberkas cahaya masuk menusuk kedua mataku. Membangunkan tidurku dari malam indahku. Apa? apa ini hanya sebatas mimpi? Mimpi semu, yang tidak akan menjadi ...

Malam Kelam

Entah, apa yang terjadi. Tiap malamku telah menjadi malam yang kelam. Entah sampai kapan rasa sesak di dada ini akan berakhir. Hidupku, tak pernah tenang setelah kehilanganmu. Nafasku rasanya selalu terhenti setiap mengingat hari itu. Darahku, rasanya berhenti mengalir seketika. Entah, mengapa pikiran itu selalu mengikutiku. Air mata ini, jatuh untuk yang ke sekian kalinya. Sampai - sampai sudah tak bisa kuhitung. Aku tidak percaya, sejatuh cinta ini aku padamu. Perasaan itu, tidak bisa kupungkiri. Tidak bisa kutolak. Selalu kuhela nafasku, tiap rasa sesak itu muncul. Kugenggam erat tanganku tiap kali pikiran itu muncul. Melamun, terus melamun sampai lamunan itu hilang diterpa angin. Rasa ingin berlari, jauh. Tidak ada satupun yang mengetahui. Hilang, begitu saja. Tanpa harus meninggalkan jejak sedikitpun. Ya hilang..

Kepergian, dan Kehilangan.

Banyak manusia yang seenaknya saja datang, kemudian pergi begitu saja.  Setelah cukup lama pergi meninggalkan, dia datang kembali.  Ketika pintunya sudah terbuka untuknya kembali, entah mengapa dia kembali pergi.  Apa dia tidak pernah merasakan hancur ? Maka dia melakukan hal itu ? Apa hidupnya cukup bahagia dengan melakukan hal seperti itu ? Apa dia kira, hanya langit saja yang bisa menangis ? Tidak ada manusia yang tidak hancur dengan merasakan kepergian yang begitu saja.  Sekuat - kuatnya manusia untuk bertahan berdiri, mereka pasti akan terjatuh juga ketika merasakan kehilangan dan kepergian.  Kurasa semua orang tahu. Tak ada manusia yang selalu berdiri kokoh bak pohon jati.  Mungkin pohon jati pun bisa tumbang jika terkena badai yang amat kencang. Apalagi manusia. Apalagi aku. 

Andai Waktu Dapat Kuputar

Jika saja, aku tahu bahwa dunia akan sekeras ini padaku. Mungkin tak akan aku sia - siakan hariku dulu. Jika harus kuingat satu persatu, mungkin tak akan pantas rasanya aku berada di dunia ini sekarang. Andai saja, aku bisa memutar balik waktu. Andai saja, aku bisa berjalan mundur untuk mengulang yang dulu pernah berlalu. Tapi inilah kenyataan. Tak ada yang bisa diputar kembali. Tak ada yang bisa di undur untuk mengulang. Bila saja, semesta memberikanku kesempatan kedua. Mana mungkin akan kusia - siakan kesempatan itu. Yang ada, yang kulakukan memperbaikinya. Menatanya kembali. Kadang pun aku tidak tahu mengapa semesta tak pernah sejalan denganku. Dan tak jarang juga, semesta tidak berpihak padaku. Jika saja, aku tahu apa maksud dari semesta sedari awal. Setiap hari, setiap waktu, setiap pergerakan tubuhku akan kuberikan sesuatu yang paling terbaik dari diriku. Tapi, apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku tidak bisa mengulang waktu. Aku tidak bisa berjalan mundur. Ha...