Mengenai Jiwa Yang Berusaha Bertahan, Namun ditelan Kesakitan.

Menapakkan kaki, berjalan terus lurus.
Tak ada penerangan, hanya kedua mata sebagai lampunya.
Pikiran sebagai denahnya.
Dan langit - langit sebagai penandanya.

Berjalan terus, lalu terjatuh
Luka, berdarah, lalu berdiri.
Kembali berjalan, kemudian terjatuh lagi.

Luka, berdarah di tempat yang sama.
Namun kembali berdiri.

Berjalan, dan terjatuh lagi.
Lagi, dengan luka yang sama. Berdarah

Berdiri, kembali
Berjalan terseret - seret.

Penuh luka, penuh darah. Satu tempat yang sama. 

Sebuah tanda diberikan oleh sang penanda.
Putih, bersih, bercahaya. Indah.

Berhasil berjalan kembali, dengan pikiranku sebagai denah, dan mataku sebagai penerangnya. 

Kaki kecil yang terseret - seret, berusaha untuk terus berjalan.
Walau di sisi lain, jiwa berteriak seolah meminta untuk berhenti. 

Semakin terang, semakin bersih
Terseret, jatuh merangkak. 
Dan tertutup, gelap, hilang, binasa;

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sosok

Malam Kelam

sampai kapan aku kan bertahan